Rabu, 02 Juli 2014

OXYTOCIN — 7 Cara Hormon Cinta Pengaruhi Kehidupan Asmara

7 Cara Hormon Cinta Pengaruhi Kehidupan Asmara


Oksitosin berperan lebih dahsyat dari yang Anda kira.

Mutia Nugraheni, Anda Nurlaila (Bogor)

Hormon oksitosin atau sering disebut hormon cinta mempengaruhi kehidupan asmara seseorang. Hormon ini bekerja dari menciptakan rasa tertarik hingga memperburuk suasana hati usai putus hubungan.

Oksitosin bertanggung jawab untuk mencipta ketertarikan, membentuk ikatan, dan mencipta masa-masa bahagia dengan pasangan dan orang yang dekat dengan kita. Zat kimia ini dianggap sebagai obat antidepresan yang sering digunakan dalam konseling pasangan.

Namun, penelitian baru menunjukkan hormon oksitosin tak selamanya memiliki efek positif. Ada tujuh cara oksitosin mempengaruhi hubungan seseorang, seperti diberitakan Yourtango.

1. Memperburuk perpisahan
Memori menyakitkan tentang mantan kekasih tak bisa hilang? Studi baru menemukan, oksitosin dapat meningkatkan kecemasan dan ketakutan akan peristiwa di masa datang. Jadi saat gagal, seperti kegagalan dalam hubungan, oksitosin akan mengaktifkan bagian otak yang meningkatkan pikiran dan memori buruk.

2. Memperbaiki kehidupan seks
Bila ingin kehidupan seks lebih baik, tak perlu obat seperti viagra. Cukup hirup obat semprot yang mengandung oksitosin. Sebuah studi dari University of California menunjukkan, pria yang mengendus obat semprot hidung dengan kandungan oksitosin menjadi lebih mesra, memiliki libido kuat dan akan lebih memuaskan pasangan.

3. Jatuh cinta dengan cepat
Saat dilepaskan selama hubungan seks, oksitosin membantu kita menjadi lebih dekat dengan pasangan. Zat kimia ini mempercepat koneksi emosional setelah fisik, terutama pada wanita.
Penelitian menunjukkan wanita merasa terikat dengan pria yang berhubungan seks dengan mereka. Tapi, overdosis oksitosin ternyata berefek negatif dan bisa membuat pasangan pria menjauh. Moushumi Ghose mengatakan, "Dalam hal ini, wanita mungkin merasa sangat terikat sehingga mengejar-ngejar pasangan. Sementara yang lain akan lari," katanya.

4. Memperkuat hubungan
Hormon oksitosin dapat meningkatkan ikatan dan hubungan sehingga pasangan saling mencintai dan mendukung dalam jangka panjang. Unsur kimia oksitosin juga dipercaya membuat hubungan awet. Studi dalam jurnal Psychoneuroendocrinology menulis, pasangan dengan tingkat oksitosin tinggi lebih sering tertawa, dan saling menyentuh daripada mereka dengan tingkat hormon oksitosin rendah.

5. Menjadikan wanita keibuan
Hormon oksitosin berperan penting dalam membantu ibu melahirkan menjalin ikatan dengan bayi mereka, pasca melahirkan. Hormon ini membantu ibu sayang kepada anak-anak mereka. Penelitian menunjukkan, kadar hormon oksiton pada trisemester pertama kehamilan paling signifikan memprediksi ikatan ibu-bayi, bahkan setelah melahirkan.

6. Membantu mengakhiri pertengkaran
Beberapa studi membuktikan, peningkatan kadar oksitosin dapat meningkatkan kemampuan membaca wajah, empati dan emosi orang lain. Para peneliti dari Universitas Oxford berpendapat bahwa pemberian oksitosin bagi pasangan mungkin mengakhiri konflik, menurunkan stres dan memperbaiki hubungan.

7. Membuat pria lebih setia
Oksitosin penting dalam kehidupan monogami pada hewan dan terbukti meningkatkan kepercayaan pada manusia. Penelitian terbaru juga menunjukkan, semprotan oksitosin membuat pria lebih setia saat berjauhan dengan pasangan daripada mereka yang lajang. Mereka dengan hormon oksitosin juga cenderung menjauhi wanita menarik. (eh)

Inilah Isi Otak Anda Saat Jatuh Cinta

Inilah Isi Otak Anda Saat Jatuh Cinta

Galih Setiono - Okezone

BANYAK yang mengatakan bahwa jatuh cinta membuat kita menjadi bodoh. Hal tersebut disebabkan karena otak memproduksi hormon dopamin dan serotonin meningkat. Benarkah?

Setiap orang pasti pernah merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta membuat kita melayang dan gembira. Inilah yang dianggap sebagian besar orang bahwa jatuh cinta membuat kita menjadi bodoh. Namun pada dasarnya, otak kita saat jatuh cinta memproduksi hormon dopamin dan serotonin. Kedua hormon tersebut dinilai para peneliti berperan penting saat kita jatuh cinta.

Menurut Semir Zeki, Profesor neuro-estetika di University College, London, mengatakan bahwa kadar hormon dopamin dan serotonin mempunyai peran penting dalam merasakan perasaan seseorang. Lonjakan kedua hormon ini dinilai sebagai aksi-reaksi otak saat kita sedang jatuh cinta.

“Ketika kadar hormon dopamin dan serotonin meningkat, kedua hormon ini akan mengatur suasana hati mereka menjadi gembira, senang dan ingin bertemu pasangannya,” ujarnya, sebagaimana dilansir MedicalDaily.

Selain memproduksi kedua hormon tersebut, tambahnya, seseorang yang sedang jatuh cinta dapat meningkatkan adrenalin mereka. Para peneliti menemukan bahwa lonjakan adrenalin dapat memengaruhi respons fisik, seperti detak jantung yang cepat, telapak tangan berkeringat, dan mulut menjadi kering.

“Ketika Anda melihat seseorang yang Anda sukai, otak akan menjadi aktif. Ini merupakan hal yang wajar,” pungkasnya. (ind)

(tty)

Jatuh Cinta Mengubah Rasa

Jatuh Cinta Mengubah Rasa


Manis, asin, pahit atau asem, orang yang sedang jatuh cinta tidak bisa merasakannya seperti para lajang atau mereka yang sudah lama menjalin hubungan cinta. Menurut para pakar ini pengaruh hormon.

Tubuh mereka yang sedang jatuh cinta, berada dalam kondisi "darurat". Tak heran bisa muncul ungkapan seperti "masakan terlalu asin karena si koki sedang jatuh cinta“. Kenyataannya, kondisi jatuh cinta betul-betul mempengaruhi indra manusia saat mencicipi rasa asin, manis, asam dan pahit.
Pihak yang bisa disalahkan adalah hormon, zat kimia pengantar informasi yang ikut menentukan hampir seluruh fungsi tubuh. Hormon misalnya, turut mengatur pencernaan, sistem imunitas dan ketahanan terhadap stress. Selain itu, hormon juga punya andil dalam urusan cinta.

Kondisi Darurat Jatuh Cinta


"Hormon punya peran sentral dalam tubuh. Segala sesuatu yang kita rasakan sangat tergantung pada gelombang hormon di dalam tubuh", jelas Carsten Harms dari tim peneliti Pusat Transfer Teknologi (ttz) di Bremerhaven, Jerman.

"Bila kita berada dalam situasi darurat, seperti saat jatuh cinta, maka ada sejumlah hormon yang bertambah. Kenaikan jumlah hormon ini bisa mempengaruhi persepsi kita mengenai rasa."

Perubahan persepsi ini telah diteliti pada 46 orang. Selain kelompok pasangan yang baru jatuh cinta, ada kelompok yang mengontrolnya yang terdiri dari lajang serta orang yang sudah lama berada dalam hubungan jangka panjang, seperti suami-istri.

Sebelum penelitian dimulai, para peserta dipilih melalui tes psikologis, yang disebut "Passionate Love Scale" atau "skala kegairahan cinta". Tes ini dikembangkan oleh Elaine Hatfield dan Susan Spencer pada tahun 1986. Lewat daftar pertanyaan dicari informasi tentang berapa sering seseorang memikirkan atau merindukan pasangannya. Informasi ini juga menentukan apakah peserta akan dimasukkan dalam kelompok yang baru saja jatuh cinta, atau kelompok yang mengontrolnya.

Selama tes berlangsung, setiap kelompok diuji coba dalam hal merasakan dan mencium, selain itu harus memberikan contoh air liurnya. Ini berfungsi sebagai patokan bagi segala perubahan pada tubuh. Dalam pemeriksaannya, peneliti menandai tingkat hormon oksitosin dan testosteron.

Hubungan Pengaruhi Hormon


Hasil tes menunjukkan bahwa tingkat hormon oksitosin menentukan indra rasa mereka yang jatuh cinta.

Salah satu hasil yang menarik, menurut Harms adalah orang yang tengah jatuh cinta memerlukan lebih banyak garam, gula maupun asam dalam suatu makanan untuk bisa mengenali rasanya. Sedangkan pasangan yang sudah lama bersama dapat secara mudah membedakan rasa-rasa tersebut.

Oksitosin di Jerman sering disebut "Kuschelhormon“ atau "hormon bermanja", karena sangat erat hubungannya dengan perasaan cinta.

Pada perempuan, jumlah hormon ini meningkat pada saat melahirkan atau menyusui. Tapi status hubungan cinta juga mempengaruhi hormon ini dan terbukti jelas dalam hasil penelitian tersebut.

Perempuan dan lelaki yang berada dalam kondisi jatuh cinta atau mencintai memiliki jumlah oksitosin yang lebih tinggi di dalam air liurnya daripada mereka yang di kelompok lajang.

Juga tingkat hormon testosteron, yang biasanya berbeda kepekatannya pada lelaki dan perempuan dan memiliki dampak yang sangat berlainan, menunjukkan perubahan serupa pada orang-orang yang sedang jatuh cinta. Pada perempuan jumlah testosteron meningkat, sedangkan pada lelaki menurun.

Hanya lelaki yang sudah lama berada dalam hubungan percintaan bisa memiliki tingkat hormon testosteron yang lebih rendah daripada lelaki yang baru saja jatuh cinta. Para ilmuwan mengira, bahwa hal tersebut menandakan situasi kehidupan yang lebih tenang dan seimbang.

Bukan Hanya Pengaruh Jatuh Cinta


Perubahan hormon tidak hanya berdampak pada indra rasa mereka yang jatuh cinta, jelas Professor Harms. Juga orang-orang yang berada dalam situasi darurat lainnya mengalami perubahan hormonal. Lejitan adrenalin pada olahragawan atau orang-orang yang mengalami stress, juga termasuk hasil penelitian yang relevan. Kepekaan terhadap rasa garam, misalnya, bisa mengisyaratkan kebutuhan tubuh.

"Penanda perubahan biologis harus berdasarkan beberapa faktor“, ungkap Harms. "Karena perubahan dalam kondisi ekstrim atau darurat tidak terbatas pada hanya dua hormon, melainkan terhadap berbagai hormon dalam tubuh". Itulah sebabnya, studi ini hanya berupa studi awal.

Dengan meneliti lebih banyak hormon dan lebih banyak cita rasa mungkin bisa diketahui, apakah dalam kondisi darurat seperti jatuh cinta, ada kebutuhan asupan yang lain. Bagi industri pangan hasil penelitian seperti itu bisa sangat menarik, karena nantinya bisa menciptakan produk dengan cita rasa yang sesuai.

DW.DE

Tiga Hormon Menyerang Saat Jatuh Cinta

Tiga Hormon Menyerang Saat Jatuh Cinta

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Selalu tersenyum, susah tidur, pipi yang bersemu kemerahan, jantung yang berdetak makin kencang, keringat dingin dan kadang-kadang saking groginya jadi sering ke toilet untuk buang air kecil adalah ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta. Perubahan itu terjadi karena serangan tiga hormon di dalam tubuh yang sedang jatuh cinta.

Ketika sedang merasakan jatuh cita, seseorang akan mengalami perubahan kondisi hormonal yang membuat suasana hatinya bergejolak tidak karuan. Tidak hanya dari fluktuasi suasana hati, perubahan hormonal ini juga bisa diamati dari kondisi fisik.

Secara umum, perubahan hormonal yang terjadi selama proses jatuh cinta dibagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama adalah gairah (lust), berikutnya adalah ketertarikan (attraction) dan yang terakhir adalah cinta sejati (attachment) yang ditandai dengan ikrar sehidup semati.

Hormon-hormon yang terlibat di masing-masing tahapan adalah sebagai berikut, seperti dikutip dari BBC, Senin (14/2/2011).

Tahap 1: Gairah

Hormon yang berperan saat seseorang merasakan gairah seksual, dalam bentuk paling sederhana sekalipun seperti ingin menggandeng lengan lawan jenis, adalah testosteron dan esterogen. Meski lebih banyak dimiliki pria, testosteron juga diproduksi oleh wanita dan sama-sama berperan dalam mengawali sebuah hubungan bermotif seksual dan emosional.

Tahap 2: Ketertarikan

Tahap ketertarikan merupakan tahapan paling rumit dalam menjalin hubungan antar manusia, khususnya dalam hal perubahan komposisi biokimia dalam tubuh. Aktivitas berbagai hormon dan neurotransmitter (saraf penghubung) pada tahap ini menyebabkan orang kehilangan nafsu makan, susah tidur dan lebih sering melamun.

Sedikitnya ada 3 hormon yang terlibat dalam tahap attraction, yakni sebagai berikut:

  1. Dopamin (Memicu rasa senang dan kecanduan seperti saat minum kopi dan alkohol)
  2. Norepinefrin atau adrenalin (Menyebabkan telapak tangan keringat serta denyut jantung meningkat)
  3. Serotonin (Merupakan pemicu rasa kantuk. Saat jatuh cinta, kadarnya menurun sehingga menjadi susah tidur).


Tahap 3: Cinta sejati

Seseorang, atau lebih tepatnya sepasang manusia yang sukses melewati tahap attraction, tahap ini akan berlangsung lebih lama bahkan bisa seumur hidup. Sepasang manusia yang sudah mencapai tahap ini ditandai dengan adanya komitmen jangka panjang, misalnya lewat pernikahan.

Pasangan yang sudah menikah paling tidak memiliki 2 hormon penting yang membantu menjaga keutuhan rumah tangga. Keduanya diproduksi baik oleh pria maupun wanita, meski ada sedikit perbedaan fungsi yang dipengaruhi jenis kelamin.


  1. Oksitosin (Pada pria dan wanita, pelepasan hormon ini memberikan kenikmatan yang luar biasa saat bercinta dan mencapai orgasme. Khusus pada wanita, oksitosin juga berperan dalam kelahiran bayi serta produksi air susu ibu)
  2. Vasopresin (Hormon yang juga dimiliki oleh tikus padang rumput ini memungkinkan manusia untuk menikmati hubungan seks, tidak seperti kebanyakan spesies binatang yang berhubungan seks hanya untuk tujuan reproduksi. Eksperimen yang dilakukan pada tikus padang pasien menunjukkan, kekurangan vasopresin bisa memicu perilaku poligami atau gonta-ganti pasangan).



OXYTOCIN — Hormon Ini Timbulkan Rasa Cinta Sekaligus Luka


Hormon Ini Timbulkan Rasa Cinta Sekaligus Luka


Cinta itu menyakitkan. Begitu kira-kira bunyi sebuah pepatah lama. Seseorang bisa jatuh cinta dan terluka di saat yang sama. Hal itu terjadi karena pengaruh hormon oksitosin. Ternyata, hormon jatuh cinta ini juga bisa membuat kenangan buruk hadir lebih intens. Bahkan, hormon ini juga bisa meningkatkan rasa takut dan kecemasan pada seseorang.

“Hormon cinta akan menginduksi perasaan ketertarikan romantis pada pasangan sekaligus meningkatkan ketakutan dan kecemasan,” tulis Daily Mail, Selasa, 23 Juli 2013. Oksitosin bertanggung-jawab atas perasaan "terhubung" dengan orang lain, baik yang membuat jatuh cinta maupun yang membuat terluka.


Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Neuroscience ini menunjukkan bahwa hormon bahagia juga bertanggung-jawab untuk beberapa rasa sakit yang paling tahan lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu fungsi hormon ini adalah untuk memperkuat ingatan sosial di satu wilayah tertentu dari otak. Bahkan, jika pengalaman ini menyakitkan atau menyedihkan, oksitosin juga akan mengaktifkan bagian otak yang mengintensifkan memori.

Jadi, hormon yang bisa membuat jatuh cinta ini juga bisa membuat seseorang terkenang pada pengalaman lalu yang menyakitkan. Selain itu, oksitosin juga meningkatkan kerentanan seseorang terhadap ketakutan dan kecemasan dalam situasi stres. Kecemasan dan ketakutan ini adalah respons terhadap rasa stres di masa depan. Dengan demikian, dapat dikatakan oksitosin memberikan rasa ekstrim pada manusia, yakni cinta dan luka.


Jelena Radulovic, penulis senior studi ini mengatakan, “Dengan memahami peran ganda sistem oksitosin, kita dapat mengoptimalkan perawatannya sehingga meningkatkan kesejahteraan dan bukan malah memicu reaksi negatif.”

DAILY MAIL | ANINGTIAS JATMIKA


Senin, 11 Februari 2013

Isi Otak Pria dan Wanita

Isi Otak Pria dan Wanita








Jatuh Cinta Menurut Endokrinologi

Jatuh Cinta Menurut Endokrinologi



Pernahkah Anda merasa sangat bahagia seperti di awang-awang saat jatuh cinta dengan seseorang?

Menurut peneliti dari Universitas Rutgers di New Jersey, Helen Fisher, terdapat tiga fase dalam tubuh yang dapat menciptakan ketertarikan terhadap seseorang. 

Lust adalah fase pertama di mana terdapat gairah seksual yang dimunculkan oleh hormon testosteron danestrogen ketika melihat penampilan seseorang.

Kedua, fase Attraction di mana kita akan merasa tergila-gila oleh pasangan sehingga tidak dapat memikirkan hal lain. Pada fase ini, darah akan mengalir ke pusat otak dan mengatur rasa bahagia ketika kita merasakan hal yang luar biasa dari pasangan. Kelompok saraf penghantar seperti dopamine, adrenalin, norepinepherine, serotonin, yang biasa disebut monoamines juga memainkan peran penting.


  • Dopamine bertanggung jawab menciptakan perasaan bahagia dan bahkan sering membuat kita terlihat lebih cantik saat jatuh cinta. Dopamine juga mengakibatkan jantung berdetak tiga kali lebih cepat, mengalirkan darah lebih banyak ke daerah pipi dan organ seksual. Pengalihan aliran darah ini mengakibatkan perut terasa kosong sehingga seringkali saat kita jatuh cinta, kita merasakan kupu-kupu dalam perut kita.
  • Adrenalin dan norepinephrine bertanggung jawab dalam menciptakan debar-debar pada jantung, kegelisahan, dan kesenangan tiada tara saat merasakan cinta.  
  • Serotonin adalah zat yang membuat otak bekerja tidak jauh beda dari kerja otak orang dengan gangguan jiwa.

Ketiga, ketika memasuki sebuah komitmen dalam hubungan percintaan, berarti orang tersebut memasuki fase di mana terjadi ikatan yang menjaga hubungan hingga bertahun-tahun. Pada fase ini, hormon oksitoksin dan vasopressin yang dilepaskan oleh sistem saraf ini berperan sangat penting.

  • Oksitosin tidak hanya membuat ikatan batin antara ibu dan anak, tapi juga antara manusia satu dengan manusia yang lain.
  • Vasopressin berguna untuk pengendali ikatan jangka panjang.

Hal ini menjelaskan bahwa cinta tidak hanya sekedar panah cupid yang menusuk hati kita, namun lebih karena peran otak, darah, hormon-hormon, dan zat kimia lain pada tubuh.