Rabu, 02 Juli 2014

KIDUNG ASMARADHANA (puisi cinta Dhamarwulan)

KIDUNG ASMARADHANA (puisi cinta Dhamarwulan)

 

'Asmaradana’ ini berdasar sebuah opera Jawa, (yang mengisahkan) tentang Damarwulan, yang salah satu bagiannya, dalam bentuk tembang asmaradana. 
 


Cerita Dhamarwulan banyak yang mengetahui, seorang pangeran indisguise. Yang dalam perjalanannya mampu menyelamatkan kerajaan Majapahit dari kekuatan angkara murka : Parbu Minak Jinggo. Kemenangannya tersebut tak terlepas dari peranan : 3 wanita dibelakang perjuangannya. Yakni Dewi Anjasmara, serta dua selir Minak Jinggo Dewi Wahita dan Dewi Puyengan.Dan akhirnya mendapatkan anugrah mendapatkan kedudukan di Majapahit serta bersanding dengan Ratu Kencana Wungu. Tulisan saya kali ini bukanlah mengulas balik cerita rakyat tersebut (emang anak kecil mau didongengi ? ) Tapi lebih kepada merefleksi ulang Kidung Asmaradhana yang  dimantrakan oleh Dhamarwulan sehingga mampu meluluhkan hati ketiga (atau empat ?) wanita. Puisi ini hasil olah rasa dan menyelaraskan getaran bathin dengan kilas lintas alam raya (ruwet yooo ?) DAH, ASLINYA HASIL KARANGAN SENDIRI.
Puisi ini terbagi menjadi tiga bagian.
1. KIDUNG PEKHATIK (Syair perawat Kuda)
2. WANUDYA KINUNJARA (Wanita dalam kurungan)
3. RATU AMURWA JAGAT (Wanita penguasa)




1. KIDUNG PEKHATIK (Syair perawat Kuda)

duhai,...
raga penat tak jua lena
meski sang malam bertambah tua
ada samar bayang bercahaya
meraja disudut-sudut mata

duhai,....
cahaya apa yang kau pancarkan
oh Sang Dewi
hingga Bthara Surya-pun mampu kau taklukan
apalah arti hamba dina ini
menatap matamu
sebening baiduri

duhai,...
tatkala telapak tanganku
yang selalu akrab dengan ilalang berdebu
kau sentuh dengan jemari teratai selembut beludru

tlah kau tancapkan
duri asmara kejantung kalbuku

Oh Bhtara Bayu,...
haturkanlah senandung cinta ini
keharibaan Sang Putri
Jelmakanlah menjadi buai mimpi

duhai,...
kuluruh dikeelokan rambutmu
yang tebarkan wewangian swargaloka
oh,..
Sang Padmasari,
kuharap esok pagi,
rela kau cucurkan kedalam jiwaku yang kehausan
setitik madu santapan Para dewa
yang terwakili pada ulas senyuman.



Kidung pekathik ini adalah lukisan perasaan Sang Dhamarwulan yang saat itu sebagai pemuda bukan siapa-siapa (zero) kepada Putri dari Majikannya. Direpetisi (ulang) disela kepenatannya merawat kuda (mobil ?) keluarga Sang Sewi Anjasmara.
Dalam falsafah Jawa dikenal yang namanya MANTRA,pada hakekatnya adalah rangkaian syair (puisi) yang dibaca berulang-ulang dengan sepenuh perasaan. Jadi Dhamarwulan sejatinya melepaskan energi cintanya melalui rangkaian kidung/syair. Lalu Babad mencatat bahwa Sang Dewi Anjasmara pun bertekuk Lutut dihadapan Sang Dhamarwulan.
 


2. WANODYA KINUNJARA (Wanita dalam kurungan)

Kau menyangka telah arungi bahagia yang sejati
nyatanya kau menipu diri
Kau merasa telah bertahta sebagai parameswari
duh,
dirimu tak lebih hanya saluran berahi

Kemilau harta hanya bisa menebus kecantikan ragawi
tak kan sanggup memenuhi dahaga cinta suci
Lalu sanggupkah dirimu,
lebih lama berkubang dalam kurungan emas yang membelenggu ?

Lalu dimana kodrat insan merdeka
yang hanya pasrah pada agungnya cinta


Cinta bukanlah pacuan hasrat
atau keriap selaksa keringat
yang hanya sisakan luruhan
dan sesalan

Sambutlah diriku,
yang kan perlakukanmu,
sesuai kodrat sejatimu.

Tak kan kutukar raga dan jiwamu
hanya dengan tumpukan kepeng yang menipu

ini darah dan jiwaku
kan kuserahkan padamu



Ada perbedaan yang mencolok diantara dua kidung diatas, tatkala Dhawarwulan melihat Dewi wahita & Dewi Puyengan (keduanya selir Minak Jinggo)yang melakoni hidup rumah tangga dengan Sang Raja itu dengan monoton, Kidung-nya seperti dirasuki energi kemarahan akan ketidak adilan yang biasanya memang dirasakan oleh wanita-wanita yang dinikahi (atau menikah) karena harta. Wanita-wanita spt ini memang akan terjebak pada sebuah situasi dimana dirinya tak lbih hanya sebagai property dan gengsi bagi sang Suami. Dhamarwulan melihat dengan jeli, bahwa secara kodrati wanita butuh untuk selalu disayangi, dipuji, dan dilindungi.



3. RATU AMURWA JAGAT (Wanita penguasa)


Wahai sang Parameswari
seluruh penjuru mayapada tlah kau kuasai
Para raja dan pangeran
bersujud didepan bangsal keagunganmu


Kau mampu menghitam putihkan dunia
Bahkan para Dewa mencemburui kuasamu
Dan para wanita
memuja penuh kekaguman padamu


Kau dongakkan dagumu
kau nyalangkan pancaran sinar matamu
Kau lantangkan suaramu
sembari kau derapkan langkah tumitmu


Tetapi duhai sang Parameswari
Kau kuasa dalam kerapuhan
kau sepi dalam keramaian
kau menangis dalam gelak tawa
dan dirimu gemagah dengan hati berdarah


Tiada satupun jamus didunia
mampu mengusir racun yang meranggas direlung batinmu
tak usah kau cari keujung dunia
karena didekat yang paling dekat adanya


setia dengarkanlah desir jiwamu
hanya lokananta dari swarga
yang senandungkan gita cinta
mampu menyatukan kembali
perca-perca berdarah
dalam hatimu
PERCAYALAH PADA CINTA

Kidung ini lain lagi, sipersembahkan olh Djamarwulan bagi wanita yang memegang kuasa (wanita karir) yang melupakan kodratnya bahwa wanita brsifat manja dan memanjakan. dilindungi dalam naungan.
KESIMPULAN : Dhamarwulan mampu meracik kidungan untuk tiga jenis wanita yang berbeda. Mampu mnyelami kedalaman jiwa mreka, dan memuaskan dahaga fantasi dan harapan para wanita. Karena Dhamarwulan memiliki tiga ageman yaitu :
TATA, TITI, TITIS dalam adagium lain HENENG, HENING, HUNONG atawa ASK, ANSWER, RECEIVE boso njlentrehe. TATA (mengamati) TITI (meneliti)TITIS (mampu memberi jawaban tepat)
DEMIKIANLAH ATUR KULO MATUR NUWUN

http://classic-imagination.blogspot.com/2011/01/kidung-asmaradhana-puisi-cinta.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar