Jumat, 04 Juli 2014

Perkawinan Arjuna dengan Ulupi

Raden Arjuna dan Dewi Ulupi


Perkawinan Arjuna dengan Ulupi

Prabu Duryodana dihadap oleh Resi Kumbayana dan Patih Sengkuni. Raja ingin mengawinkan Dursasana, dan membicarakan berita sayembara di pertapaan Yasarata. Barangsiapa bisa mengalahkan Wasi Anantasena murid Begawan Kanwa, boleh memperisteri Endhang Ulupi. Mereka yang hadir setuju, Adipati Karna dan Jayadrata diangkat menjadi utusan. Raja masuk ke istana, memberi kabar kepada permaisuri tentang rencana pencarian jodoh untuk Dursasana. Patih Sengkuni, Adipati Karna, Jayadrata, Kartamarma, Durmagati, Citraksa, Citraksi bersama perajurit menuju Yasarata.

Bathara Durga dihadap Dewa Srani dan Patih Endra Madhendha. Dewa Srani minta ijin mengikuti sayembara ke Yasarata untuk memperoleh Endhang Ulupi. Bathari Durga merestuinya. Kala Prakempa, Kala Pralemba dan Kala Kathaksini disuruh mengawal kepergian Dewa Srani.

Arjuna menghadap Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih di Cakrakembang. Arjuna mengatakan kesedihannya, sebab telah sampai waktu janji menyambut Dewi Hagraini. Ia tidak dapat menemukan dan lebih baik mati. Hyang Kamajaya berkata, bahwa Hagraini telah menjelma di Yasarata. Arjuna minta diri pergi ke Yasarata. Perjalanan Arjuna dicegat raksasa dari Tunggulmalaya. Raksasa mati dipanah Arjuna.

Bagawan Kanwa dihadap oleh Cantrik Anantasena. Tengah mereka berbincang-bincang, datanglah Cantrik Danawilapa, memberitahu kedatangan Adipati Karna dan keluarga Korawa. Mereka ingin mengikuti sayembara. Cantrik Anantasena keluar menemui Adipati Karna. Adipati Karna menyatakan ingin mengikuti Sayembara. Anantasena tidak mengijinkannya. Adipati Karna marah, lalu menyuruh perajurit Korawa mengeroyok Anantasena. Anantasena memanahkan Bayuastra. Perajurit Korawa terbawa angin, kembali ke Ngastina.

Prabu Kresna dihadap oleh Samba, Setyaki, Setyaka dan Udawa. Prabu Kresna ingin mencari keluarga Pandhawa lalu pergi dari Dwarawati.

Bagawan Abyasa berbincang-bincang dengan Prabu Yudisthira, Wrekodara, Nakula dan Sadewa. Prabu Yudisthira menanyakan Arjuna. Bagawan Abyasa menjawab, bahwa Arjuna berada di pertapaan Yasarata. Prabu Yudisthira dan adik-adiknya disuruh menyusul ke Yasarata.

Prabu Dewa Srani, raja Tunggulmalaya datang di pertapaan Yasarata, melamar Endhang Ulupi. Anantasena tidak mengijinkan, lalu terjadi perkelahian, mengadu kesaktian. Prabu Dewa Srani terbawa arus panah angin Bayuastra, jatuh di negara Tunggulmalaya. Arjuna datang ke pertapaan Yasarata, berkata kepada Begawan Kanwa, ia ingin ikut sayembara. Sang Begawan membebaskan Arjuna dari Sayembara, Endhang Ulupi akan diserahkan kepadanya. Arjuna ingin melawan Anantasena, bila kalah ia tidak ingin memboyong Endhang Ulupi. Sang Begawan menyerahkan permasalahan kepada Anantasena. Arjuna berhasil mengalahkan Anantasena, maka Endhang Ulupi akan diboyong.

Prabu Yudisthira, Wrekodara, Nakula dan Sadewa berhenti di tengah hutan. Kresna melihat dari angkasa, lalu turun mendekatinya. Mereka menyatakan kerinduannya dan inging mencari Sadewa. Prabu Yudisthira memberitahu, bahwa Arjuna berada di Yasarata. Mereka bersama-sama menuju ke Yasarata.

Bathari Durga menolong Dewa Srani yang jatuh terlempar angin kencang. Setelah tahu masalahnya, Bathari Durga menyuruh Patih Yaksa pergi ke Yasarata, membunuh Arjuna dan menculik Endhang Ulupi. Patih Yaksa segera berangkat ke Yasarata.

Prabu Kresna tiba di pertapaan Yasarata. Bagawan Kanwa sedang bersiap-siap merayakan perkawinan Arjuna dengan Endhang Ulupi. Sang bagawan amat senang. Prabu Kresna dan Yudisthira diminta melangsungkan upacara perkawinan.

Tengah persiapan perayaan, Patih Yaksa datang dan menyerang pertapaan. Prabu Kresna menugaskan Wrekodara dan Anantasena melawan serangan musuh. Patih Yaksa mati oleh Wrekodara, sedangkan perajurit raksasa musnah oleh Anantasena, Nakula dan Sadewa.

Pertapaan Yasarata telah aman, pesta perkawinan dilaksanakan oleh Prabu Kresna, para Pandhawa dan anggota keluarga di pertapaan Yasarata.

R.S. Subalidinata.
Mangkunagara VII Jilid XVIII, 1932: 14-19


============================

Dewi Ulupi


Ulupi

Ulupi (Dewanagari: उलूपी; IAST: Ulūpī), dalam wiracarita Mahabharata, merupakan salah satu istri Arjuna. Ia adalah seorang putri dari suku naga, anak Korawya. Ia merupakan ibu bagi Irawan, salah satu putra Arjuna. Ia merupakan orang yang menghidupkan Arjuna setelah dibunuh oleh Babruwahana dalam pertempuran.

Dalam bahasa Sanskerta, kata Ulupi secara harfiah berarti "muka yang mempesona".

Dalam Mahabharata disebutkan bahwa Ulupi merupakan seorang janda. Suaminya dibunuh oleh Garuda. Ia bertemu dengan Arjuna saat Arjuna menjalani masa pembuangan selama satu tahun. Ketika itu, Arjuna mandi di sungai Gangga yang dianggap suci, kemudian Ulupi bertemu dengannya. Ulupi membujuk Arjuna agar mau menikahinya. Meskipun Arjuna menyukai Ulupi, ia menolak untuk menikahinya karena sudah menikahi Dropadi. Setelah Ulupi merayu Arjuna dengan alasannya yang jelas, Arjuna bersedia menikahinya.

Arjuna tinggal bersama Ulupi dalam waktu yang singkat, setelah itu ia pergi dari sungai Gangga dan menceritakan pengalamannya kepada para resi yang tinggal di pinggir sungai. Dari pernikahannya dengan Arjuna, Ulupi melahirkan seorang putra yang diberi nama Irawan. Irawan diasuh oleh ibunya di negeri Naga, dan tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan gagah berani seperti ayahnya.

Setelah Babruwahana membunuh Arjuna yang tak dikenalinya, Babruwahana memutuskan untuk bunuh diri namun Ulupi datang untuk mencegahnya dan memberikan sebuah batu permata yang berharga. Kekuatan istimewa batu tersebut ialah dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Batu permata itu digunakan oleh Ulupi untuk menghidupkan Arjuna kembali. Setelah Arjuna hidup, Babruwahana insaf lalu meminta maaf.

Ulupi tinggal bersama wangsa Kuru di Hastinapura. Saat para Pandawa dan Dropadi memutuskan untuk melakukan perjalanan terakhir mereka, Ulupi kembali ke tempat asalnya di sungai Gangga.


============================

Bambang Irawan


Irawan

Irawan atau Irawat (Sanskerta: इरवन; Iravan), merupakan nama salah satu putra Arjuna dalam wiracarita Mahabharata. Ia ikut bertempur di pihak Pandawa dalam perang besar di Kuruksetra atau Baratayuda dan gugur pada hari kedelapan.

Tokoh Irawan juga dikenal dalam pewayangan Jawa dengan sebutan Bambang Irawan. Tempat tinggalnya bernama Kasatrian Nrancang Kencana.

Asal-Usul
Menurut versi Mahabharata, ayah Irawan adalah Arjuna dari keluarga Pandawa. Ibunya bernama Ulupi, putri Korawya dari bangsa Naga. Perkawinan Arjuna dengan Ulupi dikisahkan lebih dulu daripada dengan Subadra, ibu Abimanyu. Usia Irawan pun lebih tua daripada usia Abimanyu menurut versi ini.

Menurut versi pewayangan, Irawan juga disebut sebagai putra Arjuna dan Ulupi. Namun Ulupi versi ini adalah putri seorang pertapa dari Gunung Yasarata, bernama Resi Jayawilapa. Perkawinan Arjuna dengan Ulupi pun terjadi sesudah perkawinan dengan Subadra. Usia Irawan versi Jawa pun lebih muda daripada usia Abimanyu.

Kemunculan
Irawan versi Mahabharata muncul pertama kali ketika para Pandawa menjalani masa pembuangan di hutan selama 12 tahun. Suatu ketika Arjuna diutus Yudistira, kakak sulungnya, untuk bertapa mencari pusaka sebagai bekal untuk menghadapi para Korawa. Ia akhirnya mendapatkan pusaka bernama Pasupati pemberian Dewa Siwa. Arjuna kemudian diundang oleh Dewa Indra untuk tinggal di kahyangan untuk beberapa waktu karena jasa-jasanya menumpas para asura musuh dewata. Pada saat itulah Irawan datang menyusul. Ia naik ke kahyangan dan mengaku sebagai putra Arjuna. Setelah mendapatkan bukti-bukti yang jelas, Arjuna pun mengakui Irawan sebagai putranya.

Irawan versi Jawa muncul ketika para Pandawa masih berkuasa di Kerajaan Amarta. Saat itu ia menyamar dengan nama Gambiranom dan berhasil mengalahkan sekutu Pandawa yang bernama Jayasantika raja Nrancang Kencana. Setelah itu, ia membawa pasukan Nrancang Kencana untuk menyerang Kerajaan Hastina. Para Korawa kewalahan menghadapi serangan mendadak tersebut sehingga mereka pun meminta bantuan para Pandawa. Ketika bertempur melawan para Pandawa, Gambiranom akhirnya membuka jati diri sebagai anak Ulupi yang telah dinikahi Arjuna. Ia mendapat pesan dari kakeknya bahwa untuk mengaku sebagai putra Pandawa harus terlebih dahulu menunjukkan keunggulan. Itulah sebabnya ia pun menyerang dan menaklukkan Nrancang Kencana untuk dipakainya menyerang Hastina.

Kematian
Mahabharata bagian keenam atau Bhismaparwa mengisahkan Irawan gugur dalam perang besar di Kurukshetra pada hari kedelapan. Ia berperang di pihak Pandawa dan sempat membunuh banyak sekutu Korawa, antara lain adik-adik Sangkuni. Irawan akhirnya tewas dipenggal kepalanya oleh seorang raksasa bernama Alambusa putra Resyasrengga. Alambusa sendiri akhirnya tewas pada hari ke-14 di tangan Gatotkaca.

Kisah perang di Kurukshetra yang disadur dalam naskah berbahasa Jawa Kuna berjudul Kakawin Bharatayuddha mengisahkan Irawan tewas di tangan raksasa bernama Srenggi. Srenggi kemudian mati di tangan Gatotkaca.

Versi pewayangan Jawa mengisahkan kematian Irawan dengan lebih panjang. Irawan dikisahkan cemburu pada Abimanyu karena sebagai sesama putra Arjuna, ia tidak diajak ikut serta dalam perang Baratayuda. Irawan kemudian berangkat menuju padang Kurusetra untuk terjun ke dalam peperangan meskipun tanpa izin dari orang tuanya. Di dalam pertempuran ia berjumpa dengan raja raksasa bernama Kalasrenggi dari Kerajaan Selamangleng. Kalasrenggi memihak Korawa karena ayahnya yang bernama Jatagimbal tewas dibunuh Arjuna. Irawan pun tampil menghadapi Kalasrenggi demi untuk memamerkan bahwa kesaktiannya tidak kalah dibandingkan Abimanyu, ataupun Gatotkaca. Pasukan Selamangleng ditumpasnya habis seorang diri. Akibatnya, ia pun merasa letih dan dapat ditangkap oleh Kalasrenggi. Kalasrenggi kemudian menggigit leher Irawan sampai putus. Namun, Irawan sempat menusuk jantung Kalasrenggi menggunakan keris. Keduanya pun tewas bersama saat itu juga.


============================



Tidak ada komentar:

Posting Komentar