Kamis, 03 Juli 2014

Kitab Sengseming Asmara



6 seni bercinta menurut Kitab Sengseming Asmara

 - Ulul Rosyad


 
Malam-malam begini membincang seks memang ada kesan tersendiri hehehehe…Tak kalah dengan seni bercinta ala Kamasutra yang berasal dari India, ternyata seni bercinta juga diterang jelaskan dan vulgar dalam Kitab Sengseming Asmara yang notabene adalah karya anak bangsa. Produksi dalam negeri. Apada masa kejayaan kraton-kraton Jawa, seksualitas telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan ini. hal tersebut setidaknya terekam jelas dalam ekspresi seni-budaya Jawa.
Dalam hal ini, masalah seksual ternyata telah menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka tanpa tedeng aling-aling, yang sangat paradoks dengan etika sosial jawa yang cenderung bersifat puritan dan ortodoks.
Seperti dalam judul tulisan ini, dalam Kitab Sengseming Asmara, pembagian bercinta ada 6 titik perhatian yang harus dilewati tahap demi tahap. Penasaran, apakah itu? Berikut ini nukilannya………

1. Sengseming Nala
Maknanya, kedua insan yang bercinta hendaknya dilandasi oleh cinta kasih yang muncul dari lubuk hati masing-masing. Ketika dua insan saling bergetar jiwanya satu sama lain, maka mereka akan mendapati bahagia yang sesungguhnya dalam hubungan badan itu.
Seks bukan sekedar menyalurkan hasrat birahi seseorang. Namun merupakan perpaduan dua hati yang saling mencinta dan mendambakan. Makin mendalam cinta keduanya, makin mendalam pula rasa kenikmatan seksual yang diperolehnya.
Cinta akan menimbulkan perasaan gelisah yang indah, yang hanya akan terjawab dengan bertemunya dua hati tersebut dalam kasih sayang.
Ada yang mengistilahkan ini sebgai Aji Asmara Nala, sebab munculnya gairah hati paling awal dan birahi yang terletak di zakar, yang tentunya semua dimulai dari bentuk keindahan fisik. Daya rangsang ini akan menuntun ke dalam birahi.

2. Sengseming Pandulu
Kedua insan bercinta hendaknya dilandasi oleh rasa saling tertarik pada kecantikan dan ketampanan kedua belah pihak. Ketika cinta telah bersemi semuanya tampak indah. Semua ini karena kebanggan pandangan.
Peristiwa seperti ini sering disebut dengan istilah terkena Aji Asmara Tura, artinya gairah hati yang diakibatkan oleh penglihatan yang membawa hawa romantisme. Dampaknya adalah zakar akan memberi reaksi berupa ketegangan atau ereksi.

3. Sengseming Pamirengan
Percintaan akan semakin larut, asyik dan senda gurau mera yang yang membuat rangsangan pada gendang telinga. Suara yang merdu, desah nafas yang syahdu akan membuat kedua pasanga terlena.
Sepasang suami istri yang sedang bercinta, akan lebih nikmat jika si istri mengimbangi suami dengan desah-desah terkendali.
Tahapan ini diistilahkan dengan Aji Asmara Turida, yaitu gairah dan gerak hati yang diakibatkan oleh percakapan seperti merengek, meminta, mendesah. Sampai melengking manja. Dari sini romatisme muncul.

4. Sengseming Pocapan
Ciuman merupakan ‘pemantik’ birahi paling dahsyat. Kedua insan yang sedang amung-amung tresno tidak akan melupakan ciuman, entah di dahi, pipi, mata, bibir, hingga kelamin. Oleh karena itu, setiap pasangan suami istri hendaknya mempelajari tehnik-tehinik berciuman.
Masing-masing jenis ciuman membawa kenikmatan psikologis tersendiri. Bau kecut tubuh pasangan jauh lebih bermakna daripada aroma parfum paling harum di dunia.
Namun bila bau terlalu tak enak, ya, harus tahu diri dengan menjaga diri sedemikian rupa. Sebab dari bau akan menurunkan gairah yang membara.
Tahapan ini ada yang mengistilahkan dengan sebutan Aji Asmaradana, gairah yang diakibatkan oleh rengekan, desahan merupakan wahana baik bagi terciptanya saling memuji sesama pasangan. Kata kalimat pujian mesra dengan mudah akan terlontar. Istilahnya menjadi pujangga kagetan.

5. Sengseming Pangarasan
Munculnya gairah dan gerak hati yang diakibatkan karena saling merapatkan tubuh, menempelkan pipi, berciuman yang akan memberikan isyarat ke sukma. Air mani dalam tubuh mendapatkan sinyal-sinyal dari sengseming pangarasan dan suhu tubuh mulai bergerak naik.
Hal ini dinamakan Aji Asmaratahtra, yang diiringi gerakan-gerakan oragan tubuh seperti tangan, kaki agak menjadi tidak terkontrol karena birahi sedang menuju puncak. Tubuh seperti diberi mantra yang akan memberikan desahan-desahan untuk segera masuk ke tahap akhir.

6. Sengseming Salulut
Puncak dari “karonsih” adalah salulut, yakni masuknya alat kelamin laki-laki ke dalam laat kelami perempuan. Alat kelamin laki-laki sebelum masuk ke liang vagina harus dipastikan empat hal, yaitu; membesar,panjang, keras dan hangat.
Sedangkan alat kelamin perempuan yang mampu memberikan kenikmatan bagi laki-laki adalah yang hangat, empuk dan menyerah!
Tahap akhur ini disebut Aji Asmaragama, yaitu gairah hati yang lahir karena tercipta persenggamaan. Ini sudah merupakan tahapan paling akhir, yakni posisi atma ada di rahsa.
Dalam keadaan seperti inilah, dua tempat disucikan, yakni lingga dan yoni bersatu. Dalam hubungan seksual kitab Sengseming Asmara, percintan klasik, unsur laki-laki adalah upaya atau alat mencapai kebenaran yang agung. Sedang unsur wanita merupakan prajna atau kemahiran yang mebebaskan.
Maka, dipahami bahwa persenggamaan adalah darma seorang istri terhadap suami. Dan sebaliknya merupakan kewajiban suami terhadap istri.
Seksualitas kehidupan dunia itu sendiri ada. Maka, seks dianggap sebagai sumber kehidupan, kunci harmoni rumah tangga dan penerus keturunan. Maka, seks harus dipahami secara benar dan baik. Akhir kata selamat mencoba dengan suami atau istri pembaca masing-masing. Dan setelahnya komentar disini…suwun

==========================


Kama Sutra Jawa adalah BAB ke XII dari Serat Centhini yang membahas tentang asmara. Serat Centhini adalah Ensiklopedi Jawa Kuno yang ditulis atas prakarsa Sunan Paku Buwana V dari Kraton Surakarta pada pertengahan abad ke 18, yang terdiri atas 28 BAB yang mengupas berbagai aspek kehidupan manusia. BAB ke 12 tentang asmara membagi ajaran bercinta menjadi 5 (lima) titik perhatian :

a. Asmara Nala
Disebut juga sengseming nala. Maknanya, kedua insan yang bercinta hendaknya dilandasi oleh cinta yang muncul dari lubuk hati masing-masing. Seks bukan sekedar untuk menyalurkan hasrat birahi belaka, namun merupakan perpaduan dua hati yang saling mencinta dan mendamba.

b. Asmara Tura
Disebut juga sengseming pandulu. Maksudnya, kedua insan yang bercinta hendaknya dilandasi oleh rasa saling tertarik kepada kecantikan dan ketampanan kedua belah pihak.

c. Asmara Turida
Disebut juga Sengseming pamirengan. Maknanya, kedua insan yang bercinta akan semakin larut dalam asyik masyuk dengan senda gurau mesra yang membuat rangsangan pada gendang telinga. Sepasang suami istri yang sedang bercinta akan lebih nikmat jika si istri mengimbangi suami dengan desah-desah yang terkendali.

d. Asmara Dana
Disebut juga sengseming pocapan. Syair, puisi dan kata-kata mutiara sering kali dilantunkan oleh sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.

e. Asmara Tantra
Disebut juga sengseming pangarasan. Ciuman merupakan mantik birahi yang paling dahsyat. Kedua insan yang sedang among tresna(saling jatuh cinta) tidak akan melupakan ciuman, entah itu pada dahi, pipi, mata, bibir, atau bagian tubuh yang lain. Oleh karena itu pasangan suami istri hendaknya mempelajari teknik-teknik berciuman. Masing-masing jenis ciuman membawa kenikmatan dan psikologis yang berbeda.

f. Asmaragama
Disebut juga sengseming salulut. Puncak dari karonsih adalahsalulut yakni masuknya alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan. Alat kelamin laki-laki sebelum masuk ke dalam liang vagina harus dipastikan 4 (empat) hal, yakni besar, panjang, keras dan hangatnya. Sedang alat kelamin perempuan yang mampu memberikan kenikmatan laki-laki adalah yang hangat, empuk dan menyerah.
Sumber : Purwadi, 2004
Catatan :

Karya Sastra Jawa Serat Centhini telah diterbitkan dalam bahasa Inggris atas prakarsa ibu Kestity Pringgoharjono dengan judul The Centhini Story : The Javanese Journey of LifeSoewito Santoso. Marshall Cavendish (Times Edition), Singapore 2006. ( Kompas, 28 November 2010)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar