Jumat, 19 Oktober 2012

Kuasa Doa dan Pengampunan Seorang Istri

Pertikaian antara suami dan istri pasti meninggalkan luka yang mendalam bagi salah satu pihak. Terlebih lagi jika pertikaian itu diwarnai dengan kekerasan fisik yang sudah di luar batas kewajaran hingga tiba waktunya dimana pihak yang disakiti akan bertindak. Seperti kisah Saminah berikut ini.

Tindakan kekerasan dari suami sudah menjadi santapan Saminah sehari-hari. Saat dia pulang ke rumah pada malam hari membawa uang hasil kerja, suaminya sering menuduh dia berselingkuh dengan laki-laki lain dan memukulnya. Perkataan kasar suaminya bagai belati yang menusuk hatinya. 

Saya paling tidak bisa terima kalau saya dituduh berselingkuh, karena itu satu hal yang kotor sekali buat saya. Saya paling tidak suka dikatakan berselingkuh...

Poltak Panggabean (suami Saminah): Waktu itu saya memang seperti orang yang kesetanan, sudah membabi buta. Sampai dia lambungnya sakit dan mukanya memar...

Saat melampiaskan kemarahannya, Poltak tak segan-segan memukul Saminah di depan banyak orang. Poltak juga tak menyetujui ketika istrinya bekerja sebagai kasir di sebuah tempat hiburan malam. Sifat Poltak yang pemarah dan pencemburu dimulai sejak dia kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran. Usahanya untuk mencari pekerjaan baru selalu gagal. Sampai 1,5 tahun berlalu Poltak merasa tertekan dan dia tenggelam dalam depresi yang hebat. Mulai saat itulah kehidupannya tidak terkendali. Dia menjadi seseorang yang emosional, amarahnya mudah meledak, dan kepercayaan dirinya hilang sama sekali. Dia seperti mengutuki dirinya sendiri karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa.

Demi menghindari pertengkaran, Saminah memutuskan untuk berhenti bekerja di diskotik. Sebagai gantinya, Poltak berjualan asongan sambil mengamen. Namun tetap saja usahanya tak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Di tengah tekanan ekonomi, Poltak semakin sering ringan tangan terhadap Saminah. Saminah mengalami siksaan fisik dan batin selama 3 tahun. Saminah memutuskan pergi meninggalkan suaminya, dia melarikan diri ke Jawa bersama anaknya.

Poltak Panggabean: Tapi setelah emosi saya terluapkan, dan saya melihat dia menangis dan wajahnya lebam, saya jadi menyesal... Menyesal.. dan saya jadi membenci diri saya sendiri kenapa kok saya sampai bisa berbuat seperti itu. Dan saya tidak bisa mengalahkan tabiat keras diri saya sendiri waktu itu. Sifat seperti itu mengendalikan hidup saya. 

Atas bujukan keluarga, dengan terpaksa, Saminah bersedia kembali pulang dan tinggal bersama dengan suaminya. Satu-satunya pertolongan Saminah adalah mencari Tuhan. Saminah mulai rajin mengikuti pertemuan-pertemuan ibadah, dan lewat dukungan teman-teman seiman, Saminah mulai mengerti apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi suaminya. 

Saya berdoa, Tuhan, kalau memang saya sudah Kau panggil menjadi anakMu, tolong Tuhan berikan aku rumah tangga yang damai.. rumah tangga yang tentram... 

Poltak Panggabean: Saya jadi melihat perubahan drastis pada temperamen istri saya. Dia tidak terpancing lagi dengan emosi saya. Saya jadi agak bingung melihatnya... Kok dia bisa begini?

Doa-doa Saminah membuat hati Poltak yang telah membatu perlahan luluh. Untuk pertama kalinya Poltak menunjukkan sikap selayaknya seorang pria.

Dia bilang sejak itu dia tidak tega menyakiti saya lagi dari perasaannya yang paling dalam. Dia bilang pada saya bahwa dia tidak mau memukuli saya lagi. Saya percaya dan saya pegang omongan dia. Saya bilang kalau dia memang mau seperti itu, ya sudah kita sama-sama belajar... Jangan sedikit-sedikit berantem. Kita belajar lebih dewasa, jangan seperti anak kecil, sebentar-sebentar berantem... Dia bilang juga minta maaf, karena dia sudah banyak berbuat salah. Malamnya saya langsung bilang, Tuhan, Kau baik.. Kau baik... Kau sudah jamah suamiku... dan aku percaya Engkau akan pelihara terus... 

Kuasa pengampunan membuat Poltak tak lagi ringan tangan. Dia menjadi suami yang penyayang bagi istrinya. 

Poltak Panggabean: Saya ingin dan saya mau anak-anak saya nanti tidak seperti saya dulu dalam kehidupan berumah tangga... tapi diberkati Tuhan secara luar biasa. Saya ingin bagi anak-anak kami, kehidupan rumah tangga kami bisa menjadi contoh bagi keluarga saya sendiri dan juga bagi orang lain. Karena saya berjuang untuk istri dan anak-anak, semampu saya untuk membahagiakan mereka.(fis)

“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.” (1Petr 3:1-2)


https://www.facebook.com/notes/marriage-rebuilders/kuasa-doa-dan-pengampunan-seorang-istri/161844335821

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar